BUDAYA WISATA DAN POTENSI PONOROGO 19 Desember, 2008
Posted by akatsvki in budaya.Tags: budaya ponorogo, grebeg suro, gs2008, indonesia, jawa timur, objek wisata, ponorogo, potensi wisata, reyog, telaga ngebel
trackback
Ponorogo merupakan salah satu kota kabupaten yang sangat lekat dengan seni dan budaya. Suatu julukan yang menggambarkan ponorogo adalah kota reyog. Karena memang di kota inilah budaya reyog lahir dan berkembang. Tidak dapat dipungkiri bahwa ketenaran reyog telah sampai ke seluruh pelosok tanah air. Bahkan reyog yang menjadi maskot wisata jawa timur ini sempat menjadi rebutan antara Indonesia dan Malaysia. Meskipun demikian reyog tidak hanya dijadikan maskot/ trademark kabupaten ponorogo tetapi juga sebagai hiburan yang cukup merakyat. Di setiap kegiatan/ event tidak jarang kita jumpai pertunjukan reyog.
sumber: http://flickr.com/photos/92722497@N00/374964564/
Tampaknya pemerintah kabupaten Ponorogo sangat tanggap akan potensi reyog ini sehingga setiap tahun tepatnya pada peringatan HUT kabupaten ponorogo bertepatan dengan Grebeg Suro selalu diadakan Festival Reyog Nasional, yang pesertanya tidak hanya padepokan-padepokan reyog di ponorogo tetapi juga dari daerah lain di Indonesia. Hal ini membuktkikan bahwa reyog telah menjadi budaya nasional yang patut dilestarikan. Selain itu dalam Grebeg Suro tersebut juga diadakan iring-iringan kirab pusaka dari kota lama (makam Bathoro Katong) ke pendhopo kabupaten, yang dalam pelaksanaannya selalu dibanjiri oleh ratusan ribu warga yang sangat antusias menyaksikannya. Sehingga jalan-jalan kota di Ponorogo macet total, tetapi hal ini nampaknya malah sangat dinikmati oleh warga ponorogo, sehingga apabila melewatkannya akan timbul kesan tidak puas pada diri masing-masing.
Dalam bidang kuliner ponorogo sudah masyhur akan kelezatan sate dan pecelnya, maupun segarnya dawet jabung. Selain itu perlu diketahui bahwa masyarakat ponorogo sangat doyan ngopi sambil ngankring/ lesehan di warung-warung sehingga Ponorogo mendapat julukan sebagai kota ngopi. Tidak peduli tua atau muda, laki atau perempuan, kaya atau miskin, semua sangat menikmati aktifitas ini. Sontak pinggir-pinggir jalan dipenuhi dengan warung-warung kopi baik angkringan maupun lesehan. “Sebenarnya yang dicari dengan ngopi di warung itu bukan kopinya tetapi obrolannya dengan teman-teman” begitu penuturan salah satu teman saya. Menurut teman saya yang lain bahwa ngopi itu hanya untuk menghabiskan waktu luang daripada jenuh di rumah mending ngopi di angkringan. Teman saya yang kuliah di malang pun menuturkan bahwa warung-warung kopi di sana selalu penuh dengan orang-orang ponorogo yang kuliah ataupun kerja disana. Tampaknya budaya ngopi di warung ini telah menjadi ciri tersendiri bagi warga ponorogo.
Meskipun Ponorogo telah berumur 512 tahun namun kota ini tidak mengalami perubahan pembangunan yang cukup berarti. Tengok saja tetangga kita kota Madiun yang masih seumuran tetapi sudah menjadi kota metropolitan. Tentu saja hal ini patut disayangkan namun juga dapat dijadikan potensi yang cukup menggiurkan bagi para investor mengingat daya beli masyarakat ponorogo lumayan tinggi, lihat saja pasar-pasar ataupun swalayan yang selalu penuh pembeli. Selain itu masih banyak objek wisata di ponorogo yang memiliki potensi besar namun belum begitu dimanfaatkan. Contohnya adalah Telaga Ngebel dan air terjun Pletuk, kedua objek wisata yang berada di bagian timur ponorogo ini mempunyai panorama yang menarik dan hawa pegunungan yang sejuk sehingga cocok untuk liburan ataupun refreshing.
Tampak telaga ngebel
Sumber: http://kodratkurniawan.blogspot.com/2008_07_26_archive.html
Namun kedua objek wisata tersebut belum memiliki fasilitas penunjang yang lengkap seperti tempat penginapan, tempat hiburan, toko souvenir, maupun fasilitas hiburan yang lain. Sehingga belum dapat menarik banyak pengunjung khususnya dari luar kota. Tampaknya objek wisata tersebut apabila dimanfaatkan dengan baik bisa menambah pendapatan daerah yang lumayan banyak dari sektor pariwisata.
Disamping itu kita patut berbangga dengan Ponorogo tercinta ini. Sebab pada tahun 2008 ini berhasil mendapatkan piala adipura untuk ke-2 kalinya. Yang ditandai dengan kirab adipura beberapa waktu lalu. Tentu saja hal ini bukan kebetulan semata melainkan karena kerja keras seluruh warga dan pemerintah daerah untuk menggalakkan kebersihan. Disamping itu hawa Ponorogo yang cukup sejuk meskipun berada di dataran rendah bisa menjadi nilai plus. Jika kita bandingkan dengan kota-kota metropolitan maka sangat jauh perbedaan suhunya. Hawa sejuk tersebut terjadi karena banyaknya pohon-pohon yang berderet di sepanjang jalan selain juga masih banyaknya hutan lindung di kawasan ponorogo. Maka tidak heran jika Ponorogo berhasil meraih piala Adipura tahun ini. Semoga di tahun depan Ponorogo berhasil mempertahankan penghargaan ini.

Tampak jalan ahmad dahlan

hutan di kawasan badegan
Koleksi penulis
……PONOROGO MUKTI WIBOWO…….





Madiun, memang inflasinya paling tinggi (jp hari ini). Kalau supermarket dll banyak yg beli, karena jiwa konsumerismenya tinggi. Ingat Ponorogo sebagai salah satu gudang TKI. piss..salam kenal
dari segi informatika, jangan tanya.
di ponorogo ada http://kotareyog.com/ sebagai media informasi dan budaya ponorogo.
jangan lupa datang pas talkshow 27 desember besok ya….
tentunya sambil ngopi
artikelnya bagus mas
@pujangganong: yowiii…. hampir 50% wong wadon nang desoku dadi TKW… T_T
@denologis: yup… bener bung. eh talkshow opo lhoh???
@arifudin: gerr tenan….. ngopi yookkK!!!
@meylya: makasih mbak mel…. artikelnya mbak mel lebih bagus n panjang malahan…! hhe
salam kenal dan tulisan-tulisannya menambah kangen saya pada Ponorogo. terus berkarya
ih….. jelex….
ga mutu… warnanya aza pucet… kayak yang muncul di sungai-sungai.
bis u ga datang di lampu bang jo..
thx
[...] http://warokponorogo.wordpress.com/2008/12/19/budaya-dan-potensi-ponorogo/ [...]
bagus.
Artikel yang bagus.
Q ke Ponorogo sempat sekitar 2 bulan menetap. KKN. Namanya KKN, pastinya ditempat yang paling terpelosok dan tertinggal.
Nampaknya pemerintah Ponorogo perlu perhatian sedikit dengan daerah itu, Jambon, Sidowayah. Padahal potensi masyarakatnya tinggi. Hanya karena label “orang gila” pada mereka, tempat itu jadi sedikit terasingkan.
Semoga pemerintah Ponorogo mau mempermudah perkembangan daerah-daerah tertinggal seperti Sidowayah dan daerah laennya.
Salam kenal…
@ZOEH RIEYA: TX boz,
iya saya juga pernah bakti sosial di daerah sidowayah, memang sarana dan prasarana masih minim. Dan memang perlu uluran tangan pemda ponorogo. semoga pemda bisa memajukan ponorogo bukan hanya dalam kota tapi juga seluruh ponorogo. amien
Amin…
Mungkin karena jangkauan wilayah Ponorogo yang luas, jadinya masih terpusat di kotanya ajah.
Semoga lebih baik…
(^_^)
MANK MONYONK BGT tuuuu PMERINTAH-NA…CMA URUS PERUT KALI jadi lupa ma yg dipinggiran
paaaak pemerintaaah pemkab perhatiiiin donk mereka2
heh,iku adib bukan sih?yg punya blog
oke-lah coyyyyyyyyyyyyyyyyy……..indah bgt dsna…………emg gw khaaaaaaaannnnnnnnnn blum pnh ksna seeeeh…tapi……………………..ineteristing sihhhhhhhhhhhhhhhh
mas.. saya minta izin copy gambar reyoge.. suwun